jump to navigation

Padi Tanam Sebatang 8 Juni 2011

Posted by bapluh in materi budidaya.
trackback

Di Sumatera Barat, SRI telah diterapkan selama 5 tahun terakhir (2002-2007) dengan melibatkan mahasiswa prom S3, S2, dan S1. Metode ini merupakan cara budidaya tanaman padi yang intensif dan efisien melalui system perakaran dengan berbasis pada 3 (tiga) pengelolaan tanah yang sehat, pengelolaan tanaman yang efisien, dan pengelolaan air yang hemat.

Pengeloaan Tanah Yang Sehat

Prinsip yang harus dipahami adalah bahwa tanah tidak hanya tempat tumbuh saja, tapi tanah juga sebagai factor penentu kesehatan tanaman. Tanah diolah seperti biasa, tapi pada saat menggaru/mendatarkan tanah diberikan pupuk organik yang berasal dari kompos, baik kompos kotoran ternak mapun kompos jerami. Komposisi bahan kompos yang cukup baik adalah kotoran sapi/kambing yang bercampur dengan kencingnya 40 %, kotoran ayam 25 %, serbuk gergaji 5 % tapi bukan dari kayu jati atau pohon kelapa, abu dapur 10 %, kapur (calsit) 2 % dan trichoderma. Kompos jerami mudah dibuat oleh petani dengan cara seluruh jerami yang dipanen dilapukkan dengan trichoderma dengan dosis 0.5 – 1 kg/meter persegi tambah pupuk kandang dengan dosis 1 karung/meter persegi dan kapur sampai terbentuk.

Pengelolaan Tanaman Secara Efisien

Benih yang digunakan melalui seleksi dengan perendaman benih kedalam larutan air garam dalam ember, benih yang baik adalah benih yang terendam kebawah, yang tidak baik benihnya mengapung, benih yang baik diambil dan dicuci hingga bersih dan siap untuk disemai. Persamaian dapat dilakukan pada tampah/kotak/baki plastik atau di atas daun pisang dengan perbandingan antara tanah dan pupuk organic 1:1. Persemaian yang sama juga bisa dilakukan seperti persemaian biasa langsung di lapangan, hanya penaburan benih jarang tapi merata supaya bibit sehat dan mudah dipindahkan.

Bibit ditaman pada umur 8-12 hari setelah semai, jumlah bibit perlubang hanya satu batang (tanam sabatang) dengan kondisi air macak-macak. Bibit ditanam dangkal dan perakaran horizontal seperti huruf L dengan jarak tanam 25 x 25 cm, atau 30 x 30 cm semakin lebar jarak tanam semakin meningkatkan jumlah anakan produksi.

Pengelolahan Air Yang Hemat

Metode padi tanam sebatang dilahan sawah tidak perlu digenangi seperti biasanya, tujuannya agar oksigen lebih banyak didalam tanah, kemudian dimanfaatkan oleh tanaman, maka akar sehat dan subur serta membentuk anakan produktif mencapai 33 – 35 anakan/rumpun. Dari jumlah 70 – 80 anakan/rumpun. Pengelolahan air padi tanam sebatang adalah umur 1 – 8 hst keadaan air macak-macak, kemudian umur 9 – 10 sehari sebelum penyiangan digenangi, hal ini untuk memudahkan melakukan penyiangan 1. Setelah disiang dikeringkan sampai umur 18 hari. Umur 19 – 20 hari tanaman digenangi kembali untuk penyiangan ke 2, selanjutnya dikeringkan kembali sampai tanaman berbunga. Pada saat tanaman berbunga tanaman diairi kembali sampai panen.

Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman

Pengendalian hama dilakukan dengan PHT, yaitu dengan mengelola unsur agroekosistem sebagai alat pengendali hama dan penyakit tanaman, dan sekaligus sebagai sumber kekuatan yang bias dikembangkan yang kegiatannya dapat dilakukan melalui sekolah lapang.

Produksi

Produksi tanam padi sebatang berdasarkan uji coba di beberapa Kabupaten/Kota di Sumatera Barat mencapai 7-10 ton/ha, hal ini dibuktikan dengan jumlah anakan produktif mencapai 33 – 45 malai/rumpun dan jumlah anakan yang paling tinggi mencapai 70 – 80 anakan produktif/rumpun.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: